Aspek Budaya yang Mempengaruhi Status Kesehatan Dan
Perilaku Kesehatan
Menurut G.M. Foster (1973) , aspek
budaya dapat mempengaruhi kesehatan al :
a.
Pengaruh tradisi
Ada
beberapa tradisi didalam masyarakat yang dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan
masyarakat.
b.
Sikap fatalistis
Hal
lain adalah sikap fatalistis yang juga mempengaruhi perilaku kesehatan.
Contoh : Beberapa anggota masyarakat dikalangan kelompok tertentu (fanatik)
yang beragama islam percaya bahwa anak adalah titipan Tuhan, dan sakit atau
mati adalah takdir, sehingga masyarakat kurang berusaha untuk segera mencari
pertolongan pengobatan bagi anaknya yang sakit.
c.
Sikap ethnosentris
Sikap
yang memandang kebudayaan sendiri yang paling baik jika dibandingkan dengan kebudayaan
pihak lain.
d.
Pengaruh perasaan bangga pada statusnya
Contoh
: Dalam upaya perbaikan gizi, disuatu daerah pedesaan tertentu, menolak untuk
makan daun singkong, walaupun mereka tahu kandungan vitaminnya tinggi.
Setelah diselidiki ternyata masyarakat bernaggapan daun singkong hanya pantas
untuk makanan kambing, dan mereka menolaknya karena status mereka tidak dapat
disamakan dengan kambing.
e.
Pengaruh norma
Contoh
: upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi banyak mengalami hambatan
karena ada norma yang melarang hubungan antara dokter yang memberikan pelayanan
dengan bumil sebagai pengguna pelayanan.
f.
Pengaruh nilai
Nilai
yang berlaku didalam masyarakat berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Contoh
: masyarakat memandang lebih bergengsi beras putih daipada beras merah, padahal
mereka mengetahui bahwa vitamin B1 lebih tinggi diberas merah daripada diberas
putih.
g.
Pengaruh unsur budaya yang dipelajari pada tingkat awal dari proses sosialisasi
terhadap perilaku kesehatan.
Kebiasaan
yang ditanamkan sejak kecil akan berpengaruh terhadap kebiasaan pada seseorang
ketika ia dewasa. Misalnya saja, manusia yang biasa makan nasi sejak kecil,
akan sulit diubah kebiasaan makannya setelah dewasa.
h.
Pengaruh konsekuensi dari inovasi terhadap perilaku kesehatan
Apabila
seorang petugas kesehatan ingin melakukan perubahan perilaku kesehatan
masyarakat, maka yang harus dipikirkan adalah konsekuensi apa yang akan terjadi
jika melakukan perubahan, menganalisis faktor-faktor yang terlibat/berpengaruh
pada perubahan, dan berusaha untuk memprediksi tentang apa yang akan terjadi
dengan perubahan tersebut.
5. Perubahan Sosial Budaya
Menurut Koentjaraningrat, bahwa
perubahan budaya yg tjd di masy dpt dibedakan kedalam beberapa bentuk :
a.
Perubahan yg tjd secara lambat dan cepat
b.
Perubahan yang pengaruhnya kecil dan besar
c.
Perubahan yang direncanakan dan yg tdk direncanakan
Hubungan budaya dengan kesehatan
Kebudayaan-kebudayaan
ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya jika salah
seorang anggota keluarga menderita suatu penyakit (misal demam karena
masuk angin) hal yang pertama dilakukan sebelum pergi ke dokter pastilah
mencoba untuk menyembuhkannya. Misal dengan kerokan. Ini adalah ciri dari
sebuah kebudayaan yang sangaterat hubungannya dengan kesehatan. Dimana anggapan
masyarakat mengenai demam karenamasuk angin ini akan hilang apabila angin di
dalam tubuh keluar. Maka kerokan adalah hal yang paling masuk akal bagi
mereka dan tanpa mereka ketahui pula bahwa kerokan ini memilikidampak yang
negatif bagi tubuh kita. Karena pori-pori dalam tubuh akan terbuka dan
terluka. Namun dibalik efeknya yang negatif ini tidak bisa kita pungkiri
bahwa jasanya sangat besar,karena terbukti dapat menyembuhkan.Akibat hal inilah
banyak masyarakat yang cenderung memegang kokoh prinsip ini.Dimana angin yang
terlalu banyak di dalam tubuh hanya dapat dikeluarkan dengan kerokan yang
bertujuan membuka pori-pori dan mengeluarkan udara yang mengumpul di dalam
tubuh.
Selain kerokan diatas masih banyak lagi
contoh-contoh kebudayaan yang memiliki hubungan dengankesehatan. Permisalan
yang lain dapat kita lihat dalam kehidupan masyarakat yang masih tradisional.
Jika anggota keluarga sakit mereka akan mengunjungi dukun untuk
menyembuhkan.Hal ini dikarenakan keyakinan mereka terhadap si dukun tersebut
sangatlah tinggi.
Hal lainnya karena mereka takut dengan dokter.
Sebab mereka berpikir jika pergi ke dokter mereka pastiakan disuntik dengan
jarum yang besar. Sebab lainnya yakni karena masih menganggap bahwasakit yang
mereka derita ada hubungannya dengan hal-hal yang berbau mistis.
Untuk menghindari hal tersebutlah mengapa mereka lebih memilih untuk
menggunakan danmempercayakan kesehatannya pada dukun tradisional yang notabene
belum tentu mengerti.
Daftar pustaka
- Notoatmodjo,Soekidjo,promosi
kesehatan teori dan aplikasi,edisi revisi,rineka cipta,Jakarta,2010
- Socio
Cultural Influences On Health and Health Care
- Foster
- Socio
Cultural Influences On Health and Health Care
- Wikipedia.com
,
- satyaexcel.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar